Kenapa Pilih Bule Sebagai Pasangan Hidup?

Love in Paris

Sempat dijuluki bule hunter oleh teman saya, sejujurnya saya tidak setuju dengan julukan ini karena terkesan bahwa sayalah yang mengejar-ngejar cinta mereka. Alasan lainnya menurut saya, masing-masing perempuan punya orientasi/ pria idaman versi mereka, jika ada perempuan lokal yang demam kpop dan orientasi mereka hanya pada pria korea, kenapa tidak ada julukan korean hunter? Kalau ada perempuan yang doyannya cuma sama om-om berdompet tebal, kenapa mereka tidak dijuluki om-om hunter? So please hargailah orientasi masing-masing orang.
Adapula beberapa dari teman saya bertanya, kenapa saya memilih pria caucasian sebagai pasangan  dan calon pendamping hidup saya? Jujur kalau ditanya pertanyaan macam itu, saya cuma iseng-iseng jawab, untuk memperbaiki keturunanlah, bagaimana kamu ini, jelas-jelas kamu lihat saya pendek, kecil, pesek pula! Sekedar nyari harapanlah untuk anak saya kelak! But I wasn't really mean it, sebenarnya ada beberapa poin lainnya menurut versi saya yang buat saya bisa gondok kalau harus dijelaskan seperti orang pidato, oleh karena itulah saya menulis artikel ini, karena saya pikir menulis rasanya lebih mudah untuk dijelaskan. Well, inilah ketujuh poin menurut versi saya kenapa pilih pria caucausian sebagai pendamping hidup, cekidot:

1. Kebanyakan Pria Bule Tak Peduli Rupa Fisik Pasangannya
Tamasya di Ubud, Bali

Kalau pernah ke Bali, pernah sebel tidak dengan banyaknya perempuan muda lokal bahkan emak-emak dengan tampang rata-rata jalan bareng pria caucasian ganteng extra hot bak Christian Grey yang lebih hot daripada sambal ulek warung lalapan seberang rumah saya, atau lihat perempuan lokal tipe macam itu jalan dengan bule tampang rata-rata tapi berdompet tebal dan punya properti villa dimana-dimana? Pastinya ada, dan banyak! Beberapa teman perempuan lokal saya juga mengalaminya dan tidak sedikit yang berakhir dengan pernikahan. Pernah mau nonjok perempuan macam itu! Jujur saja saya pernah, karena saya pernah merasa iri sekaligus bahagia melihat pasangan macam ini. Tapi kok mau nonjok? Ya karena saya lagi ada mood aja mau nonjokin orang.
Terkadang perempuan-perempuan tersebut sering kali mendapat bully-an oleh orang-orang kita sendiri hanya karena problematika visual semata sehingga merasa kurang dihargai, jika warganegara asing saja lebih menghargai kita bahkan dengan tulus menjadikan kita sebagai seorang yang spesial, why not? Is anything wrong with that? Menurut pengalaman saya dan hasil penglihatan saya pada realita hidup kebanyakan pasangan ras campuran, kebanyakan pria caucausia alias bule memang tidak terlalu peduli yang namanya rupa fisik bahkan usia pasangan mereka, jika kalian berdua cocok secara karakter, maka dia akan melakukan segala sesuatu agar kalian bisa bersama.
Ada teman saya yang bilang ke saya itu karena kebanyakan bule gak tahu bedain cantik dan gak cantik, well percayalah, saya sudah beberapa kali bereksperimen nge-date dengan pria-pria berambut pirang itu, mereka tahu benar kok perbedaan cantik dan tak cantik, emangnya mereka buta warna lihat warna lipstik pasangan mereka merah menyala? Well intinya, meskipun mereka tahu menilai secara visual wanita ras manapun secara logis, tapi terkadang perasaan akan selalu menang dengan menghubungkannya pada karakter. Makin cantik karakter kamu, makin cantik pula kamu dihadapan si bule.
Balik ke kultur kita, ketika kita memikirkan sosok pria lokal berduit, pastinya kita tak jarang melihat wanita-wanita muda seksi yang cantik bohai turut menemani, atau setidaknya menemani pada malam hari saja di ranjangnya. hehe siapa tahu ya.. toh kita tak lihat tampak tapi buktinya tapi kan sering muncul di tipi-tipi, ada saja pejabat-pejabat kaya raya udah punya bini tapi masih mesti ada pula embel-embel koleksi perempuan muda cantik yang hidupnya pamer harta mulu. Kita selalu dihadapkan pada image tersebut, dimana ada gula disitu pula ada semut, dimana ada pria kaya pasti disitu ada wanita muda cantik pengoleksi emas. Tidak usah jauh-jauh, pada lingkungan sekitar saja pasti selalu ada pemandangan perempuan muda cantik memiliki pasangan seorang pria bertampang dibawah rata-rata yang dibalik itu punya gudang harta karun.
Pastinya ada juga tipekal pria bule seperti itu, gak cuma orang-orang kita, di semua negara pastinya ada, hanya saja jumlahnya tidak sebanyak yang ada di negeri tercinta kita ini, dimana hal tersebut sudah tak asing lagi di terdengar di kuping kita, meskipun terkadang kita kurang bisa menerima dan mengelak akan realita tersebut tapi seperti itulah keadaan yang banyak terjadi di lapangan.

2. Berpeluang untuk Tinggal Menetap atau Jalan-jalan ke Luar Negeri
Pedasaan ala Swiss

Jika kebanyakan alasan perempuan Indonesia mencari pria bule untuk dijadikan pendamping hidup untuk memberi peluang memperbaiki kondisi ekonomi, tetapi menurut versi saya tidak, karena sejujurnya secara finansial saya dan keluarga saya tidak termasuk dalam kelas ekonomi di bawah rata-rata, sehingga saya tidak harus berambisi untuk menfokuskan hidup saya pada perbaikan finansial, plus dengan budaya menjodohkan dari kampung halaman tempat saya berasal, mereka bisa saja menjodohkan saya dengan pria lokal lajang yang juga memiliki kelas ekonomi yang sama atau diatasnya.
Tapi jujur saya, goals hidup saya cenderung sederhana, saya selalu mengidamkan untuk tinggal di rumah kecil sederhana di sebuah countryside atau pedesaan nan hijau ala New Zealand, Skotlandia dan Swiss, punya peternakan kuda sebagai hobi, punya kebun luas dimana saya bisa memasak sup labu dan membuat salad spesial di akhir pekan dari hasil kebun yang saya tanam, pekarangan nan hijau yang luas dengan bunga-bunga bermekaran pada musim semi, menikmati hangatnya coklat panas sambil menghangatkan tubuh di depan hiting atau perapian saat musim dingin. Ordinary life but life happily! Inilah alasan utama saya mencari jodoh pria warganegara asing yang bisa mendukung dan mewujudkan mimpi saya itu.
Rasanya saya sudah penat dan lelah melihat rumah-rumah di kawasan tempat tinggal saya yang selalu diiringi dengan tembok tinggi ala tentara, kurangnya lahan hijau, kebosanan akan forever summer, dan banyaknya aksi kriminal yang bisa terjadi kapan saja pada lingkungan sekitar.
Ada yang punya mimpi tidak cuma sekedar jalan-jalan tapi tinggal menetap di luar negeri? Menikah dan hidup selamanya di negeri dengan 4 musim. Memiliki pasangan warganegara asing dapat memberi peluang tersebut, khususnya mereka yang berasal dari Eropa, gak cuma landscape alam dan perkotaan yang indah, teknologi dan transportasi yang sekian maju, angka kriminal yang relatif rendah, arsitektur kuno ala Eropa nan indah yang masih dipertahankan hingga pada abad ini, kebersihan, keamanan, sistem dan peraturan negara dan hal lainnya membuat kita tidak berpikir dua kali untuk menjadikan negara-negara asal mereka menjadi negara impian untuk tempat tinggal. 

3. Memotivasi untuk Menjadi Perempuan Mandiri
Umumnya pada negara maju khususnya negara-negara di benua Eropa, Australia dan Amerika, kesetaraan gender telah diterapkan. Perempuan dan laki punya hak dan kewajiban yang sama. Jangan heran jika terkadang pada budaya barat, pria bisa jadi bapak rumah tangga dan ibu yang bekerja, mungkin kebetulan lakinya lagi di phk kali ya.. dan jangan heran kenapa perempuan-perempuan bule jarang yang matre karena mereka bisa bekerja, membeli mobil pribadi, apartemen pribadi hasil jerih payah mereka sendiri. Ini pengalaman saya ketika hidup di Jerman, mengaca dari kehidupan keluarga Jerman saya yang punya perempuan-perempuan kuat dan mandiri dan kebanyakan perempuan pada negara maju memang memiliki tipe seperti itu. Jika saja sebagian besar perempuan di negara-negara tersebut berprofesi sebagai pengangguran atau ibu rumah tangga saja, negara itu tak bakal semaju, sekuat itu perekonomian dan pendapatan per kapita negaranya! Pastinya kemajuan suatu negara juga didukung peran emansipasi terutama dalam karir perempuan, gak cuma laki bertindak. 
Jika kamu punya pasangan bule yang masih muda, bisa saja dia akan menanamkan mindset itu pada kamu yang terkadang ditujukan untuk kemandirian. Pernah kencan dengan pria bule pada hari nge-date pertama ditraktir, tapi hari nge-date selanjutnya sudah tak traktir? Itu normal ! Belum tentu dia kere atau dia tak suka dengan kamu, tapi karena hal tersebut sudah lumrah di negaranya, ingat kesetaraan gender sis. Perempuan juga bisa setrong bayar bill pribadi ! Kalau mau menghindar dari mindset ini dan punya tujuan mencari jodoh pria bule hanya karena berfokus pada perbaikan finansial semata, carilah pria diusia 40 tahun ke atas, biasanya usia tersebut sudah produktif dalam karir. Tapi sejujurnya, yang membuat saya jatuh cinta dengan mereka salah satunya adalah mindset ini, ini mengingat saya kepada mantan teman kencan saya seorang pria berkebangsaan inggris berprofesi sebagai executive manager pada salah satu brand cruise di Bali, saat itu dia berusia 31 tahun, padahal dari segi materi dia sangat cukup untuk membantu pembayaran bill pribadi saya, tapi dia selalu memberikan saya wejangan untuk tak jadi perempuan muda yang malas-malasan, gak punya pekerjaan tetap dan dia pun memberikan saya kesempatan untuk berkarir di perusahaan sahabatnya dengan posisi yang menjanjikan asalkan saya rajin, mau belajar dan pandai menabung, tentu saja posisi pekerjaan tersebut dia tidak tawarkan dengan cuma-cuma tanpa adanya pendidikan dan skill tapi atas dasar pertimbangan lulusan S1 pariwisata yang saya pegang sedangkan saat itu saya masih memiliki status pengangguran dan hidup bermalas-malasan, tapi pada saat itu saya menolak tawaran itu karena ada suatu alasan lain dan saya memutuskan untuk berpisah (that’s a quite long story to explain here) kok jadi curhat gini.. Ada pula pasangan saya berkebangsaan Jerman yang telah menjadi pasangan saya selama 3 tahun dan puji Tuhan masih berlanjut sampai sekarang, juga memiliki mindset yang sama, meskipun secara finansial dia mampu untuk membiayai kebutuhan kami berdua, tapi tetap saja dia berusaha keras untuk mencarikan saya pekerjaan yang cocok dengan kemampuan dan jurusan kuliah saya, dia ingin supaya saya menjadi perempuan muda yang mandiri dan tentunya tak pemalas bisa cari duit jajan sendiri. Tentu saja, mindset ini tidak dimaksudkan bahwa  pihak perempuanlah yang harus sepenuhnya menanggung semua kebutuhan hidupnya sendiri tanpa pertolongan pihak lelaki, hanya saja tak ada salahnya kan kita juga ikut berpartisipasi atau sekedar mencari uang jajan. Hal inilah yang saya sangat sukai dari mindset mereka. Benar-benar memotivasi saya untuk masuk dalam lingkup emansipasi. Every girls can be a Wonder Woman in their career! Ciahhh 

4. Berpeluang Memperbaiki Keturunan
Konon katanya, perkawinan beda ras akan menciptakan keturunan dengan genetik yang lebih kuat dan lebih baik dilihat dari kacamata atonomi. Kalau melihat tayangan di tipi-tipi Indonesia, selebriti papan yang sukses sekaligus dipuja-puja keindahan parasnya seperti Pevita Pearce, Chelsea Islan, Raline Shah, Tatjana Saphira, Jessica Mila, Mike Lewis, Hamish Daud, Stefan William, Aliando Syarief dan masih banyak selebriti blasteran lainnya yang sukses menjajaki dunia intertaiment Indonesia.
Bukan berarti, saya memilih alasan ini karena saya berambisi untuk menjadikan keturunan saya kelak menjadi artis yang saya rasa selebriti-selebriti yang saya mention diatas tidak hanya menjual paras dalam bidang intertaiment tetapi juga disertai dengan kemampuan bakat ber-acting.
Saya hanya berpikir jika memiliki keturunan dengan genetik yang lebih baik maka akan membuat keturunan saya memiliki jalan hidup yang lebih mudah, contohnya saja lebih mudah dalam hal mencari jodoh dan pekerjaan meskipun gak harus jadi artis, memangnya pekerjaan cuma artis saja? Sangat banyak pekerjaan saat ini yang juga mementingkan kacamata visual seperti posisi pekerjaan sebagai sekretaris, pramugari, model dan sebagainya yang persyaratanya tidak bisa kita elak. Siapa sih yang tak mau punya keturunan dengan rupa yang lebih elok? Plus saya juga tak ingin keturunan saya berakhir seperti saya yang sama-sama punya hidung pesek, rasanya hal itu cukup sampai pada generasi saya saja, hehe.
sumber grafik : tirto.id

5. Bebas Berekspresi dalam Berbusana
bertamasya di Bali

Ada beberapa teman luar Bali saya yang mengkritik betapa noraknya fashion busana saya, sudah pakai anting-anting gede, pake daster panjang, pake topi, pake wedges sneaker pula, gak serasi amat ya. Ada juga yang mengkritik saya berpose terlalu seksi di pantai, padahal jelas saya pakai bikini ala pantai, masa iya pakai kebaya untuk berenang? Saya tahu kok situasi dimana saya harus berpakaian sopan dan bebas, ketika saya berlibur ke kampung halaman saya ke Sulawesi atau berlibur ke daerah Jawa dimana saya memang merasa sudah seharusnya respect dengan budaya sekitar dengan memakai busana yang lebih sopan. Saya sangat menghargai itu dan saya sendiri pun tak pernah  mencoba untuk mengkritik siapun dalam hal berbusana, itu adalah hak setiap orang selama mereka tidak menganggu hidup orang lain.
Menurut pasangan saya saat ini berserta pengalaman saya bergaul dalam lingkup budaya barat, sebenarnya mereka tak peduli dengan busana apapun yang saya kenakan, mau itu menor, norak, seksi atau tertutup yang penting ada benang diatas kulit, apakah hal itu merugikan hidup orang lain?
Lucky me hidup di Bali, dimana saya benar-benar merasa bebas berekspresi dalam berbusana, tak ada yang menoleh sampai leher ikutan bengkok saat saya memakai leging ketat, tak ada acara bisik-bisik tetangga saat saya berbusana senorak mungkin, tak ada yang mengkritik saat saya berbikini ria, boro-boro mengkritik, menoleh saja kagak, siapa sih yang tertarik melihat paha ukuran jumbo XL saya? 

6. Romantis
chilling at Potato Head, Bali

Budaya barat yang lebih cenderung to the point dan bebas berekspresi membuat saya menjadikan satu asalan ini menjadi salah satu poin dalam judul postingan saya kali ini. Menurut pengalaman saya, pria barat benar-benar tahu cara memperlakukan perempuan dengan cara romantis, mereka tidak akan segan menggandeng tanganmu saat sedang berjalan berbarengan, mereka tidak akan segan mencium keningmu di tempat umum saat mereka merasa bahwa kamu adalah perempuan yang spesial baginya, mereka tidak akan segan membukakan kursi yang terhimpit diantara meja untuk kamu duduk manis saat akan makan malam ala romantic candle light, di kamus mereka tidak ada istilah malu-malu dan menutupi perasaan mereka yang sesungguhnya, dibandingkan dengan yang hanya berani chatting-an dengan segala macam emoji berbentuk hati, tapi eh pas ketemu ekspresinya biasa aja, mau cium dan gandeng tangan tapi si doi mau nyari aman dan takut dibilang pasangan mesum plus alay. 
Ternyata budaya romantis yang katanya kebarat-baratan ini tidak hanya berlaku pada kaum muda saja, saya telah melihat realita nyata pada saat saya tinggal di Jerman, negeri pasangan saya berasal, ada banyaknya pasangan tua yang masih mesrah, berpegangan tangan dan saling memberikan ciuman. Saya juga melihat hal serupa pada kedua orang tua pasangan saya yang sudah masuk dalam kategori usia paruh baya tapi masih mesrah bak pasangan muda yang kemarin masih merayakan honeymoon.
Saya adalah tipe orang yang berprinsip, apa salahnya melihat dua orang saling mencintai saling mengadu kasih selama mereka tidak merugikan hidup lain? Apakah pikiran kita saja yang terlalu mesum sehingga menghubungkan itu sebagai konteks porno-pornoan sampai mengutuk tindakan mereka ataukah karena kita terlalu sirik melihat dua orang yang saling mencintai? Ketika melihat orang membuang sampah sembarangan, kita bertindak biasa saja, ketika kita melihat dua orang saling membenci lalu bertengkar, kita bertindak tapi tidak sampai mengutuki mereka, please think about it.

7. Hemat Biaya Salon
Sehubungan dengan poin kelima, memiliki pasangan pria bule tidak menuntut saya untuk harus tampil semaksimal mungkin, suntik vitamin C supaya kulit menjadi cerah, nge-cat rambut warna-warni ala kebule-bulean, tanam benang di hidung supaya ikutan mancung dan perawatan tubuh lainnya yang terkadang harus lewat jalan operasi plastik untuk memaksimalkan penampilan cantik versi Indonesia. Ini telah menjadi pertimbangan saya secara saya punya hobby traveling yang dimana saya terkadang dihadapkan pada situasi ekstrem pengatnya sinar matahari, hanya untuk melihat dan menikmati keindahan dunia. Memiliki pasangan pria bule tidak pernah menuntut saya rajin melakukan perawatan kecantikan yang menguras isi dompet, sebaliknya mereka memuja perempuan Indonesia dengan rupa yang alami khas Indonesia banget.

Dalam postingan saya ini, saya tidak bermaksud murujuk ke arah bahwa kamu benar-benar harus memilih pria caucasian untuk menjadi pendamping hidup dan sebagai gantinya kita menjauhi pria lokal. I never force anyone to do it! Karena di lapangan, masih banyak pria lokal baik hati yang tak memilih perempuan berdasarkan fisik saja, punya karir yang bagus, open-minded, tak suka mem-bully, cerdas dan rajin menabung pula!  
Masing-masing orang punya orientasi versi mereka, baik itu perempuan maupun pria, dan hargailah orientasi itu. Memilihlah dengan bebas disertai pertimbangan yang bijak.

About the Author

Blog ini didirikan sejak tahun 2009 oleh Bunga Kurnia yang bukanlah seorang blogger aktif, hanya dikala waktu senggang menyempatkan waktunya untuk menulis blog meskipun dengan tulisan yang tak sempurna dan tak karuan, karena itulah blog ini dinamakan 'menulis bebas'.

Comments

Post a Comment

Jika tidak punya akun Google+ untuk berkomentar, silahkan pilih opsi 'Anonymous/Tanpa Nama'